Dhyan's posts with tag: @yan batmus
| Start: | Nov 14, '08 06:00a | | End: | Nov 20, '08 | | Location: | Banda Naera, Ambon, Maluku |
SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren: PLESIRAN TEMPO DOELOE: MOLUCCAS (SPICE ISLANDS) Ahli Sejarah VOC, yang juga jago bacain batu nisan dan dokumen jaman VOC -Pak Lilie Suratminto- akan menjadi narasumber kita selama di Maluku, terutama di kepulauan Banda Neira. Diaorang akan menjelaskan awal kedatangan bangsa Belanda di Nusantara, yang diawali dengan tibanya pelaut Cornelis de Houtman di Karangantu, Bantam (Banten) pada tanggal 27 Juni 1596, lalu juga akan diceritakan tentang berdirinya VOC pada tahun 1602, monopoli rempah-rempah di kepulauan Banda Neira, penyerangan tentara VOC yang dipimpin oleh J.P.Coen ke Jayakarta pada tahun 1619 (lalu mendirikan Batavia), dilengkapi dengan kisah para gubernur jenderal yang berkuasa di Nusantara ini sampai tahun 1799. Wah pokoknya komplit dah ceritanya, yey gak akan nyesel deh ikutan plesiran ke Spice Islands ini, pokoknya kwaliteit nummer een (nomer satu), tiada kadoeanja (tiada duanya :) tempat-tempat yg akan dikunjungi selama di Spice Islands P. NEIRA - P. BANDA BESAR - P. GUNUNG API - P. AI - P. RUN - P. HATTA - P. SJAHRIR - RUMAH PENGASINGAN BUNG HATTA - RUMAH PENGASINGAN SJAHRIR - RUMAH PENGASINGAN DR. CIPTO MANGUNKUSUMO - GEREJA TUA - RUMAH CAPTAIN COLE - GEDONG SOCITEIT MAKATITA - TUGU RIS (REPUBLIK INDONESIA SERIKAT) hah? RIS? - RUMAH BUDAYA BANDA NEIRA - PERKEBUNAN PALA - PATUNG KONING WILLEM III - ISTANA VOC - FORT BELGICA - FORT NASSAU - FORT HOLLANDIA - FORT AMSTERDAM - FORT VICTORIA - AMBON WAR CEMETERY - PATUNG PATTIMURA - PATUNG MARTHA CHRISTINA TIAHAHU - PANTAI NATSEPA - GERBANG KOTA - ATRAKSI BAMBU GILA - MESJID TUA WAPAUE KAITETU - NGINEP DI HOTEL MAULANA (di Banda Neira) - NGINEP DI HOTEL AMBON MANISE (di Ambon) (SNORKELING - DIVING - apa aja deh, yang ini biaya sendiri yah :) (selama di Banda Neira akan dipinjamkan life jacket/pelampung utk kita naik perahu motor keliling dari pulau ke pulau, seharian penuh) (kenapa tgl 14-20 November?) karena katanya, the best weather in Banda Neira is October - November. nah karena Oktober kitaorang Lebaran, maka plesirannya diadakan sebulan setelah Lebaran yah. (kan gak ada libur pada minggu-minggu itu?) naaaah siap-siap deh pada verlof (cuti) untuk tanggal 14,17,18,19, 20 November okeh jek! oh iya rencananya berangkat di Jumat subuh, nyampe Jumat siang di Ambon, lantas esoknya langsung jalan lagi menuju Banda Neira. Berangkat: Jakarta-Ambon Jumat 14 November 2008 jam 06.00 WIB Pulangnya: Ambon-Jakarta Kamis 20 November 2008 jam 13.00 WIT on-kost PTD: Moluccas (Spice Islands) = Rp.6.000.000 (enam juta). pembayarannya bisa dicicil, suwer dah! cicilan 1 = 1 juta (September, bulan ini!) cicilan 2 = 2 juta (Oktober, abis lebaran) cicilan 3 = 3 juta (November, first week) tuch kan = 6 juta total semuanya :) (yuk DP awal paling lambat tanggal 24 September, hari RABU pagi yah) kalo pada ngedaftar PTD ini email ke: adep@cbn.net. id (adep at cbn dot net dot id) tempat terbatas lha yauw untuk 50 orang saja yaah, yang mendaftar sekarang sudah 30 orang, yuk mari 20 orang peserta lagi nih ------------ --------- --------- --------- ---- PLESIRAN TEMPO DOELOE ke Spice Islands Kumpul di Bandara SoekarnoHatta terminal 1B Jumat 14 November 2008 jam 05.00 pagi (berangkat Jumat, hari biasa, kagak libur) Rp. 6.000.000 per orang, sudah termasuk: (tiket pesawat BATAVIA AIR pergi-pulang) (airport tax di Jakarta dan juga di Ambon) (tiket kapal PELNI: Ambon ke Banda Neira) (tiket kapal PELNI: Banda Neira ke Ambon) (bus di Ambon, kapal boat di Banda Neira) (makan dan minuman selama di plesiran :) (oh iya ada kaos Plesiran Tempo Doeloe) (terus juga tiket masuk semua tempat) (tentu pake asuransi jiwa juga doong) (menginap 3 malam di Banda Neira) (menginap 3 malam juga di Ambon) detailnya minggu depan deh
| Start: | Sep 20, '08 2:30p | | End: | Sep 20, '08 6:30p | | Location: | Kampung Pecah Kulit |
PLESIRAN TEMPO DOELOE: mencari Kampung Pecah Kulit Kumpul di Museum Bank Mandiri, diseberangnya Stasiun Kota Sabtu Sore, 20 September djam 14.30 Rp. 50 ribu/orang, sudah termasuk: (aer minoem) (kolak pisang) (teh manis anget) (hidangan berbuka puasa) (diceritakan oleh Meneer Lilie Suratminto, ahlinja riwajat Batavia) (yang fresh baru pulang dari Belanda, eh ngaruh gak sih? hehehe) (diterangin secara kumplit bangunan gereja yg berdiri tahun 1695) (yg merupakan bangunan tua yang masih berfungsi seperti awalnya) (tentu kita bisa liet benda peninggalan yang masih ada sejak doeloe) (seperti orgel tua, lampu dgn lambang kota Batavia, bangku-bangku) (bangku yang doeloe dibuat utk petinggi VOC dan gubernur jenderal) (dan bisa dengerin kisah kuburan gubernur jenderal yang ada di sini) ditransfernya ke Rekening BCA/BNI 46/MANDIRI cab.Pondok Indah atas nama ADE HARDIKA PURNAMA dikonfirmasikan via sms ke no: 0818 94 96 82, atau via email, di-scan dulu, makasih yah, trims. (tapi kalo transfernya udah pake nomer urut, kagak usah dikirim dah itu email scan-nya, cukup kasih tau lewat email atau sms) (Toeloeng kassie kitaorang chabar kemana toean ataoe njonja kirim itoe wang agar kitaorang nantinja tiada poesing toedjoe koeliling diboeatnja tatkala toean dan njonja tiada bri tahoe perkara ke bank mana wang roepiah itoe melajang-lajang :) (please kirim email dulu sebelomnya, ntar dibales kok, untuk dapatkan nomer urut keikutsertaan, jangan langsung transfer yah, ntar kitanya malah bingung karena dapetin itu uang kaget, bisa dikopi khan jek?!) (anak ketjil, orang moeda dan orang toea, bayarnya sama yah, oke?) (semua di-reken dengan satoe prijs/price iatoelah:Rp. 50.000/orang) (oh iya letak Museum Bank Mandiri ini: kalo naik busway, pas di halte paling ujung, yaitu Halte Stasiun Kota, pas keluar dari haltenya nih, lgs nyebrang ke kiri jalan aja, (lewat bawah tanah yah) kalo ke kanan khan ke Stasiun Jakarta Kota, pokoknya keliatan kok gedungnya gede banget, dan di situ juga ada plang yang bertuliskan: Museum Bank Mandiri, dan kalo pada mau bawa kendaraan, ada parkir mobil dan motor juga, baik yang di depan maupun yang di dalem gedung, masuk ke belakangnya) ------------ --------- --------- --------- --------- --------- - Sablonnja (sebelumnya) poelang kampong di Hari Raja Lebaran tahon ini, moengkin toean en njonja perloe sadikit mengenali riwajatnja kampong djadoel, jang tida begitoe masjhoer, namoen poenja satoe riwajat sedjarah jang sanget interessant, sila ikoet satoe programma bikinan SAHABAT MUSEUM jang soeda lama di-idem-idemken oleh rakjat Djakarta, iaitoelah: PLESIRAN TEMPO DOELOE: Kampong Petja Koelit Saptoe sore tanggal 20 boelan September tahon 2008 poekoel 14.30 sampe buka puasa Walaah itoe nama kampong sangetlah serem, ada apatah gerangan? kenapa ada soeatoe nama kampong jang bikin boeloe koedoek berdiri? begimana riwajatnja hingga dinamaken demikian? Marilah kitaorang tjari tahoe atsal-moeatsal itoe tjerita baek-baek, yuk, mari.. Sjahdan, sebermoela pada sekitar tahon 1721, ada saorang pemoeda jang poenja nama Pieter Erberveld, saorang mestizo (atau kalo di jaman sekarang kita menyebutnya Indo), diaorang poenja bapak ijalah orang Djerman dan iboe dari negeri Siam (sekarang Thailand). Pieter en diaorang poenja pengikoet ditoedoe aken bikin peroesoehan di malem tahon baroe 1722, jakni pemboenoehan besar-besaran terhadap orang Belanda di kota Batavia. Itoelah jang memboeat gouverneur-generaal jang berkoeasa itoe tempo, Hendricus Zwaardecroon, kassie prentah oentoek tangkepin Pieter en diaorang poenja pengikoet agar sitoeatie aman. Namoen ini actie tjoema strategie belaka agar Pieter briken diaorang poenja di tanah jang loeas di bilangan Djalan Djakatra (sekarang Jl. Pangeran Jayakarta). Pieter dan pengikoetnja di-bui di Stadhuis (sekarang Museum Fatahillah), tatkala di dalem di itoe gedong marika kerap dipoekoel dan di-straf zonder ampoen sahingga semoea pengikoet Pieter achirnja pada mengakoe aken rentjana peroesoehan di malem tahon baroe 1722. Oh jah, pada itoe tempo, Pieter Erberveld adalah saorang mestizo jang tjoekoep kaja-raja dan poenja tana jang loeas, salah satoenja sebidang tana di bilangan Portugeeschebuitenk erk (Gereja Portugis Luar yang sekarang bernama Gereja Sion). Itoe geredja soeda ada sedari tahon 1695 dan misih berdiri hingga hari ini. Pieter dan para pengikoetnja dihoekoem mati dengen tjara diiket laloe ditarik berbagi pendjoeroe mata angin di deket roemahnja di Djalan Djakatra ini (sekarang lokasinya menjadi showroom mobil), dari kedjadian inil kamodian kitaorang kenal: Kampong Petja Koelit. Kaloe-kaloe kitaorang tida tahoe dimana koeboeran Pieter Erberveld berada, laen perkaranja dengen koeboerannja Gouverneur-Generaal Hendricus Zwaardecroon. Itoe koeboeran precies tergelatak di halaman loear Geredja Sion, dengen batoe nisan jang mewah dan tjiamik, nanti deh diceritain abis-abisan sama Pak Lilie karena diaorang seneng banget kalo udah ceritakan perihal koeboeran-koeboeran toea djaman VOC dahoeloe kala, lantas kitaorang djoega aken dengerin pendjelasan tentang orang-orang Mardijker (yang katanya ini asal muasal dari kata Merdeka), sekumpulan budak yang dimerdekakan oleh orang Belanda, asalkan ia mau pindah agama dari Katolik ke Protestan, dan juga akan dijelaskan perkembangan agama di Nusantara mulai dari agama Hindu, Buddha, Islam, hingga ke Katolik, Protestan dan kepercayaan lainnya. Sepanjang perjalanan dari Museum Bank Mandiri ke Kampung Pecah Kulit, kitaorang juga akan ceritakan tentang riwayatnya nama-nama jalan di sekitar sini, seperti Jl. Pintu Besar Utara, Jl. Pintu Besar Selatan (yang berasal dari nama salah satu bagian pintu gerbang di bagian selatan Tembok Kota Batavia, yang doeloe berada di sekitar jalan ini, juga akan sekalian kita slide-show gambar pelukis bangunan dan keadaaan kota Batavia abad ke-18, yaitu: Johannes Rach. Trus, trus, trus nantinya juga akan ditunjukkin dimana letak persisnya bekas benteng-benteng VOC, yg salah satunya pernah diserang oleh tentara Mataram dan sempet dijuluki sebagai "Kota Tahi" karena tentara VOC sudah kehabisan amunisi. So, toenggoe apalagi ?!! Lekas, Sigra daftarken diri toean dan njonjah sekalian sekarang djoega ke email: adep@cbn.net. id atawa hoeboengi telefoon-tangan di nummer: 0818 94 96 82 (nomer urut peserta akan diberikan setelah mendaftar, sehingga nantinya ditransfer uang sesuai dengan nomer urut) dapat ditransfer setelah mendaftar, doeit bisa ditransfer ke Bank BCA: 2371425693 BCA cab Pondok Indah atas nama ADE HARDIKA PURNAMA toeloeng dikonfirmasikan segera via sms ke 0818 94 96 82 atau via email yang seperti biasa, discan aja, lalu kirim ke adep@cbn.net. id (doeit jang soeda ditransfer tida dapet dikembalikan, tetapi bisa dioper kepada orang laen/teman) Sekarang juga bisa ditransfer ke rekening MANDIRI: 101.000.44.34. 088: ADE HARDIKA PURNAMA dan juga ke rekening BNI 46, yaitu dgn no.rek: 0148445465 atas nama: ADE HARDIKA PURNAMA (oh iya kedua bank itu cabang Pondok Indah juga yah, yuk mari dikirim segera, makasih yah, yah) Tjara membajarnja/ transfer, misalnja: Mas Boy ada di nomer urut 18, maka Mas Boy transfernja = Rp.50.018 (kalo di mesin ATM ketiknya Rp.500018 <<<<< angka 18 di belakang mengacu ke nomer urut) djadi ntar bajarnja boekan Rp.50.000 sadja, tetapi ditambah Rp.18 sebagi nomer urut. okeh bener yah kayak gitu, trims. oh iya kalo soeda mentransfer dan soeda pake no.urut, kabari yaaaw! Memoedjiken dengen hormat, Ade Purnama (Adep) Sahabat Museum 0818 94 96 82 ------------ --------- --------- --------- --------- --------- - PLESIRAN TEMPO DOELOE: Kampong Petja Koelit 14.30 - 15.00: Pendaftaran Ulang di Museum Bank Mandiri 15.00 - 15.15: Penjelasan dari Pak Lilie Suratminto dan slide-show 15.15 - 15.45: Jalan Kaki menuju Koeboeran Gubjen Zwaardecroon 15.45 - 16.00: Penjelasan tentang riwayat Gubjen Zwaardecroon 16.00 - 16.30: Keliling Gereja Sion mendengar penjelasan gedung 16.30 - 16.45: Jalan Kaki menuju Kampung Pecah Kulit 16.45 - 17.00: Penjelasan tentang Kampung Pecah Kulit 17.00 - 17.45: Jalan Kaki menuju Museum Bank Mandiri 17.45 - 17.55: Mengaso sambil menanti berbuka puasa 17.55 - 18.30: Berbuka Puasa, Sholat Maghrib dan klaar
|  | Sambungan dari PTD |
|  | Sambungan dari PTD Di atas kapal Motor saya menyimak penjelasan dari Pak Lilie tentang Pulau yang ada di Kepulauan seribu ini...
|
|  | Sambungan dari PTD
Setelah Mengelilingi Museum Fatahilah ( yang dijelaskan sebelumnya) Saya dan Jossy menuju bis yang telah disiapkan panitia untuk membawa kita ke dermaga muara kamal, kita ambil bangku yang bertiga ..akhirnya kita berkenalan lagi dengan seorang teman bernama Tanti (diajak sama temannya dan ternyata terpisah karena mendaftar sendiri). sama dengan Deedee juga terpisah.
Perjalan dimulai.. Pemandangan selama perjalanan menuju Muara Kamal membuat saya tidak habis pikir.. jakarta makin padat..(lihat di peta jaman dulu dan sekarang, sekarang tata kotanya makin tidak teratur). Memasuki kawasan Muara kamal ternyata bis tidak dapat melewati jalan.. sehingga bis berhenti di Stadion Kamal Muara dan kita turun dari bis dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju pangkalan kapal motor yang berdampingan dengan pasar ikan dan pemukiman nelayan. Nelayan di sekitar muara kamal ternyata nelayan kerang hijau...terlihat tambak2 kerang pada perjalanan menuju Pulau Onrust. = BERSAMBUNG = |
|  | Setelah baca.. postingan dari milis SAHABAT MUSEUM..
saya langsung teriak dalam hati ini dia yang saya tunggu..tunggu.. (Niat Buanget ...)
saya langsung telp teman, sahabat2 saya
=JOSSY= "Jossy mau ikut plesiran lagi nga?" *Kemana?* "Ke Pulau Onrust..kepulauan seribu" *Boleh tuh..ikut deh* (ok Jossy ikut)
=NANA= "Nana siang..." ^Ya ada apa ratna?^ "Mau ikut PTD?" ^Kemana?^ "P.Onrust" ^Bayar berapa?^ "Ada deh..."(aku sebut ituh jumlahnya) ^Liat nanti ya? belum tahu nich jadwalnya^ "ok deh"
terus saya coba ke MAYA..
=MAYA= "Maya.. ikut ngak ke pulau onrust?" ^Duuh aku sudah tidak boleh kemana2 nich^
coba lagi ngajak Andriati dan Deedee yang tempo hari ikut PTD kereta.
Saya SMS ke Andriati ternyata dia tidak bisa, lanjut ke
=DeeDee= Sedangkan Deedee masih tentative.. (huhuhuhu kalau ngak ikut nyesel tuhhhhh), palagi hobbynya photo.. wih ini kesempatan .. punya kesempatan...
Akhirnya saya daftarkan dulu untuk 3 orang.. buat saya, Nana, dan Jossy.. sampai waktunya ternyata nana batal ikut..Akhirnya aku dengar Deedee jadi ikut.. huhuh senang sekali..
Saya janjian sama Jossy ketemuan di Festival Kemang untuk kemudian menginap dirumah ortu saya, kita berangkat naik kereta dari St. Lenteng menuju Jakarta Kota (BEOS) dan kumpul Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)
Sebelum panjang lebar menjelaskan tentang sejarah dari masing2 pulau yang akan kita kunjungi..
ini jadwal acara dan Nara sumber yang akan memberi informasi selama di pulau2 tersebut.
PLESIRAN TEMPO DOELOE: Harta Karun VOC di Pulau Onrust? 06.30 - 07.00: Pendaftaran Ulang di Museum Fatahillah 07.00 - 07.05: Perkenalan Sahabat Museum 07.05 - 07.10: Perkenalan Goodreads Indonesia 07.10 - 07.15: Sambutan Penerbit Hikmah & Perkenalan Narasumber (Lilie Suratminto, Alwi Shahab, E.S.Ito) 07.15 - 07.30: Membahas Buku: "Rahasia Meede" 07.30 - 07.45: Monumen Pieter Erbervelt (narasumber utama: E.S.Ito) 07.45 - 08.15: Gedung Dasaad Musin Concern (narasumber utama: Alwi Shahab) 08.15 - 09.00: Berangkat ke Pelabuhan Muara Kamal 09.00 - 10.00: Berangkat ke Pulau Onrust 10.00 - 11.00: Kelilingin Pulau Onrust (narasumber utama: Lilie Suratminto) 11.00 - 12.00: Makan Siang, Break, dan Book-signing 12.00 - 12.30: Kelilingin Pulau Kelor 12.30 - 12.45: Berangkat ke Pulau Bidadari 12.45 - 13.45: Kelilingin Pulau Bidadari 13.45 - 14.00: Berangkat ke Pulau Cipir 14.00 - 15.00: Kelilingin Pulau Cipir 15.00 - 16.00: Kembali ke Pelabuhan Muara Kamal 16.00 - 17.00: Perjalanan kembali ke Museum Fatahillah -Bapak Lilie Suratminto, dosen Universitas Indonesia dengan bukunya "Makna Sosio-Historis Batu Nisan VOC di Batavia" (udah ada tanda tangannya)
-Bapak Alwi Shahab, pengarag buku2 sejarah dengan bukunya Seri Legenda Jakarta - Ciliwung Venesia dari Timur, Kasino bernama Kepulauan Seribu, Maria Van Engels (Menantu Habib Kwitang), Robinhood dari Betawi. (2 buku seri Legenda Jakarta udah ditanda tangan)
-Mas E.S Ito, penulis novel "Rahasia Meede"dan "Negara Kelima" (Rahasia Meede udah di tanda tangan)
Sampai di Museum Fatahillah, ternyata saya ketemu sama Mbak Farida beserta ibunya, Devi (teman yang waktu PTD sebelumnya) TINA (teman hang out di Escargot).
Untuk mengambil Name Tag peserta barisan dibagi 4 (1-100 , 101-200, 201-300, 301-400) kemudian di Name Tag tertera Nomer Bis Seblah kanan dan Nomer kapal sebelah kiri. Sudah jelas seperti itu masih aja ada yang salah barisan dan ketuker perahu (maklum mungkin baru pertama ikut).
Sambil menunggu teman2 yang sedang mengambil name tag saya mendekati sang pengarang Novel "Rahasia Meede" Abang E.S.Ito untuk menandatangani Novel. (heheh lupa foto bareng) dak apa lah yang penting sudah ada tanda tangannya. Kemudian kita jalan ke dalam Museum Fatahillah untuk pembukaan acara. (acara pun belum di mulai) .. maka saya mendekatkan diri ke Pak ALWI SHAHAB sang penulis sejarah, untuk minta tanda tangan beliau didua bukunya. (kalau ini saya tidak lupa karena dingatkan sama panitia), makasih mbak Ninta.
Akhirnya acara dimulai dengan perkenalan dari para panitia mulai dari SAHABAT MUSEUM, Narasumber, kemudian panitia dari GOODREADS (komunitas pembaca buku) dan terakhir dari penerbit HIKMAH.
Plesiran dimulai dari monument Pieter Erbervelt yang ada didalam tempat kita berkumpul kemudian ke Gedung Dasaad Musin Concern.
=Pieter Erbervelt= MENURUT Bintang Betawi, banyak orang rante (orang hukuman) yang kabur dari tempat ia dipekerjakan, mencoba bersembunyi di Hutan Sunter. Hutan Sunter terletak tidak jauh dari kawasan pinggiran Betawi, seperti Sumur Batu dan Kelapa Gading. Mereka bersembunyi di tempat itu, karena setiap mereka kelaparan akan mudah mencuri ke kampung yang berdekatan itu.
Orang-orang hukuman memang banyak dipekerjakan di luar selnya, seperti di Istana Gubernur Jenderal atau Stadhuis. Tetapi bila pengawasnya meleng, mereka akan mencoba kabur, agar tidak lagi dimasukkan lagi ke sel yang pengap itu.
Sebenarnya tidak hanya Sunter yang menjadi tempat sembunyi orang hukuman. Di kuburan Cina, Sentiong, dekat Gunung Sa(ha)ri, beberapa waktu yang lalu juga ditemukan empat potong pakaian orang hukuman. Pelarian mereka ke kuburan Cina di Sentiong itu tidak mengherankan. Letak Sentiong berdekatan dengan Drossaer-weg (kini Jalan Taman Sari), yang selama ratusan tahun dikenal sebagai jalan dari para soldadu kompeni yang melakukan desersi. Para soldadu yang tinggal di kastil itu kabur melalui Jalan Mangga Dua, Drossaer-weg, lalu bersembunyi di kuburan Sentiong. Tetapi karena di kuburan itu tidak ada tempat sembunyi, mereka memilih ke Hutan Sunter.
Tanah Sunter sudah dikenal sejak lama. Dalam agenda harian kastil kumpeni (Dag-register), banyak terungkap bahwa para pembesar kumpeni bila pergi ke selatan tidak melalui De Groote Zuid-weg dan Senen, melainkan melewati Sontar (ejaan kumpeni untuk Sunter), Kelapa Gading, Pondok Gede, menuju Cimanggis. Sampai awal abad ke-20 tanah Sunter masih merupakan hutan lebat. Agaknya kumpeni menamai kawasan itu berdasarkan nama kali yang mengalir di situ. Kali itu memiliki mata air yang terletak puluhan kilometer ke arah udik, dan merentang paling tidak dari Cimanggis sampai Ancol. Tetapi yang diberi nama Sunter adalah yang terletak di sebelah timur Kemayoran.
Dalam Dag-register tercantum sejumlah pembesar kumpeni yang dikenal sebagai pemilik tanah Sunter. Misalnya Johannes Cops, yang dilahirkan pada 24 Desember 1663 sebagai anak Jacob Cops dan Elizabeth. Cops muda ini memiliki karier yang cepat menanjak di kumpeni. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Banda, kemudian ditarik ke Betawi sebagai anggota Raad Ordinair. Bahkan pada tahun 1699 ia diangkat sebagai ketua Raad van Justitie. Sebagai pembesar kumpeni, jelas ia sangat kaya dan memiliki hak untuk membeli tanah di mana saja. Berdasar keputusan kumpeni 23 November 1696 (surat tanah 26 Februari 1697) Cops memperoleh tanah yang cukup luas di Sunter dan Cakung. Walau masih berwujud hutan lebat, prospek tanah di Sunter sangat bagus. Pada tahun 1657 berkat usulan anggota Dewan Hindia, Pieter Anthonissz Overtwater, digali kanal ke Sunter dari kastil kumpeni di muara Ciliwung. Tidak mengherankan ketika meninggal, Cops mewariskan peninggalan berupa "rumah petani dengan segala miliknya di dekat Jalan Besar ke Selatan", yang ditaksir bernilai 40.000 Rds (rijksdaalder = uang perak senilai 2,5 gulden).
Pemilik tanah lain adalah Pieter Erbervelt. Ayahnya, Pieter van Elvervelt, adalah seorang Jerman yang masuk kumpeni dengan jabatan terakhir wakil ketua Heemraden dan kapten pasukan berkuda. Ketika meninggal dunia pada 1696 ia meninggalkan warisan beberapa bidang tanah. Di antaranya tanah di Sunter yang surat tanahnya diperoleh pada tanggal 2 November 1687 yang terletak di Kali Sunter, pada arah tenggara dari kastil kumpeni, dengan luas 34 morgen (ukuran luas tanah di negeri Belanda). Dibanding tanah Cops, yang diwarisi Erbervelt sangat kecil, karena harganya ditaksir hanya 25 Rds.
Pembesar kumpeni lain yang menjadi tuan tanah di Sunter adalah Jacobus Johannes Craan, yang pernah menjabat sebagai komisaris dari tanah sebelah udik Betawi. Tahun 1741 dalam usia 13 tahun ia masuk kumpeni dengan tugas "soldadu surat-menyurat" (soldaat aan de pen). Tahun 1746 ia diangkat sebagai juru tulis (klerk) pada sekretaris jenderal dengan gaji 65 gulden. Berdasar keputusan tanggal 10 September 1763 ia menjadi pemilik tanah Tanjung Oost atau Groeneveld. Ia juga memperoleh hak kepemilikan tanah di dekat Kalibata dengan membayar 27.000 Rds dari Van der Delde, yang jatuh bangkrut. Tanah miliknya bertambah terus, bahkan ia kemudian menjadi pemilik sebelah timur Kali Sunter, yaitu tanah Cipinang sampai Sunter.Agaknya bukan rahasia lagi bahwa tanah Sunter menjadi rebutan para pembesar kumpeni.
Sumber Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial, tinggal di Jakarta
= Gedung Dasaad Musin Concern= Gedung peninggalan akhir abad 19. Dahulu Gedung ini dimiliki oleh keluarga Dasaad, satu – satunya pengusaha pribumi yang memiliki kantor di daerah Kota
BERSAMBUNG |
|  | Pulau Onrust, Pulau Kelor, Pulau Bidadari dan Pulau Cipir (1)
ini di Stasiun Lenteng Agung.. Pagi2.. mau ke Museum Fattahillah...
Cerita akan berlanjut terus.. (sabar..sabar.. ya?) BERSAMBUNG |
Halo.. Halo.. Kepada Bapak-Bapak-Ibu-Ibu jang boediman jang soeda mendaftar ikutan nyari Harun Karun di Pulau Onrust dan sekitarnya, mohon perhatiannya... Kumpulnya di Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta), hari Minggu pagi tanggal 3 Agustus 2008 jam 06.30 (yah, setengah tujuh jek!) di pintu depan museumnya yah. Acaranya mulai jam 7 pagi dan dijadwalkan kelar jam 17 sore sudah kembali ke Museum Fatahillah (bubar jalannya di Taman Fatahillah, di depannya Museum Fatahillah). Oh iya dari Museum Fatahillah ke Muara Kamal naik Bus AC yah, kita charter buat pergi ke Muara Kamal dan pulang ke Museum Fatahillah pada petang hari, lantas yang pengen nge-parkir mobil pagi-pagi, parkir aja di halaman depan Museum Fatahillah, tepatnya di pinggirnya Taman Fatahillah, atau kalo lebih enak lagi di depannya Museum Wayang sih, masuk aja ke daerah sini lewatin Kafe Batavia, kalo yg motor ntar akan kite usahain agar boleh parkir di halaman dalem Museum Fatahillah, pokoknya ntar kita atur sebaek-baeknya deh, janji deh, beneran deh, suwer deh, kagak bo'ong deh... Dress code kagak ada, pakean bebas, mau pake kaos, pake singlet, pake u can see, pake yang adem aja deh, trus pake celana pendek juga boleh, pake alas kaki yang nyaman yah, mau sepatu keds kek, mau sendal gunung kek, yang penting yang bikin yey enak memijak bumi aja. oh iya bawa topi juga, payung juga gapapa, trus juga kaca mata matahari (ddduuh terjemahan gue kampring banget sih: sunglasses!), trus bawa handuk kecil juga gapapa, sun-block lotion, buku-buku yang ditulis narasumbernya (gak harus sih, tapi daripada lu lupa, mending gue ingetin sekarang hehehe), lantas bawa kamera, hendikem, jangan lupa batrenya dipenuhin dulu, trus kalo perlu (buat jaga-jaga sih), bawa autan juga deh, kan nyamuk lagi nge-trend nih nyerang manusia anytime hehehe, oh iya kalo perlu bawa baju ganti, kesian ntar gerah pulang-pulang bau matahari, ckckckck, lalu, bawa makanan dan minuman ringan kalo mau, walopun ntar kite bagi-bagiin sih botol aqua pas ntar saat hari agak siangan dan agak sorean gitcu. Tolong ditransfer sekarang juga yah! (hehehe rada maksa :p) karena kapal motor dan laen-laennya mau dibayar esok sore, biar semuanya beres, ditransfernya ke BCA: 2371425693 BCA cab Pondok Indah atas nama ADE HARDIKA PURNAMA toeloeng dikonfirmasikan segera via sms ke : 0818 94 96 82 atau via email yang seperti biasa, discan aja, lalu kirim ke adep@cbn.net.id (tapi kalo transfernya udah pake nomer urut yang bener, kagak usah di-scan en di kirim ke email aye sih), (doeit jang soeda ditransfer tida dapet dikembalikan, tetapi bisa dioper kepada orang laen/teman) Sekarang juga bisa ditransfer ke rekening MANDIRI: 101.000.44.34.088: ADE HARDIKA PURNAMA
dan juga ke rekening BNI 46, yaitu dgn no.rek: 0148445465 atas nama: ADE HARDIKA PURNAMA (oh iya kedua bank itu cabang Pondok Indah juga yah, yuk mari dikirim segera, makasih yah, yaah)
On-kost plesiran Rp.300.000 (tiga ratus ribu ajah per orang, untuk segala usia, tua, muda, anak kecil :) (sudah termasuk: tiket Museum Sejarah Jakarta, roti buaya, teh tawar anget (manis juga boleh), lantas naek Bus AC, naek Kapal Motor, tiket Pulau Onrust, Pulau Bidadari, Pulau Kelor dan Pulau Cipir, minuman dingin, makan siang ikan bakar dari Restoran "Seba Nikmat", asuransi perjalanan, dan keceriaan, yeaah!) bayarnya ditransfer only, only ditransfer, kagak bayar di tempat yah, ntar kapalnya kagak tersedia lho..
Tjara membajarnja/transfer, misalnja: Mas Boy ada di nomer urut 18, maka Mas Boy transfernja = Rp.300.018 (kalo di mesin ATM ketiknya Rp.300018 <<<<< angka 18 di belakang mengacu ke nomer urut) djadi ntar bajarnja boekan Rp.300.000 sadja, tetapi ditambah Rp.18 sebagi nomer urut. okeh bener yah kayak gitu, trims. oh iya kalo soeda mentransfer dan soeda pake no.urut, kabari yaaaw! yo wis kalo begitu, nih liet ancer-ancernya untuk Plesiran Tempo Doeloe tanggal 3 Agustus kyk gini:
PLESIRAN TEMPO DOELOE: Harta Karun VOC di Pulau Onrust? 06.30 - 07.00: Pendaftaran Ulang di Museum Fatahillah 07.00 - 07.05: Perkenalan Sahabat Museum 07.05 - 07.10: Perkenalan Goodreads 07.10 - 07.15: Perkenalan Narasumber (Lilie Suratminto, Alwi Shahab, E.S.Ito) 07.15 - 07.30: Membahas Buku: "Rahasia Meede" 07.30 - 07.45: Monumen Pieter Ebervelt (narasumber utama: E.S.Ito) 07.45 - 08.15: Gedung Dasaad Musin Concern (narasumber utama: Alwi Shahab) 08.15 - 09.00: Berangkat ke Pelabuhan Muara Kamal 09.00 - 10.00: Berangkat ke Pulau Onrust 10.00 - 11.00: Kelilingin Pulau Onrust (narasumber utama: Lilie Suratminto) 11.00 - 12.00: Makan Siang & break 12.00 - 12.30: Kelilingin Pulau Kelor 12.30 - 12.45: Berangkat ke Pulau Bidadari 12.45 - 13.45: Kelilingin Pulau Bidadari 13.45 - 14.00: Berangkat ke Pulau Cipir 14.00 - 15.00: Kelilingin Pulau Cipir 15.00 - 16.00: Kembali ke Pelabuhan Muara Kamal 16.00 - 17.00: Perjalanan kembali ke Museum Fatahillah Ntar kalo mau nanya-nanya tentang buku "Rahasia Meede" santai aja, gak harus pas di sesi si pengarang E.S.Ito menjelaskan pas jam-nya dia, jam 07.15 - 07.45, pokoknya fleksibel aja dah, dan ntar tanya jawabnya bisa kesana-kemari, boleh tanya E.S.Ito langsung, boleh tanya Pak Lilie Suratminto, boleh tanya Pak Alwi Shahab, pokoknya peserta boleh nanya apa aja, kapan aja, pas lagi jalan di bagian belakang Museum Fatahillah, maupun pas jalan kaki ke Gedung Dasaad Musin Concern, atu di Bus AC dalam perjalanan menuju Pelabuhan Muara Kamal, ataupun di atas Kapal Motor dan selama keliling pulau-pulau yang kita tuju, dan narasumber bisa dan sangat dinantikan untuk menimpali cerita sejarahnya walopun pada saat itu tidak sedang menjadi narasumber utama.
Ya udin kalo begeto, ntar aye kirimin detailnya Senen atau Selasa deh (eh ngomong-ngomong ini udah cukup detail yakh informasinya? hehehe, yuk mari membayar dan ajak temen-temen yang laen, ntar akan kite tambahin lagi kapal motornya). salam manis selalu, Ade Purnama (Adep) SAHABAT MUSEUM 0818 94 96 82
SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren: PLESIRAN TEMPO DOELOE: HARTA KARUN VOC DI PULAU ONRUST?
Mencari sisa harta karun VOC di Kepulauan Seribu, yang ada di Pulau Kapal (Onrust), Pulau Kelor (Kerkhof), Pulau Bidadari (Purmerend), dan Pulau Cipir (Kuiper), sambil kita membedah novel berlatar belakang sejarah, yang itu.. "Rahasia Meede" karya E.S.Ito (dan tentunya diaorang ikutan jadi narasumber nantinya, ayo entar kita tanya-tanyain tentang isi cerita novel sejarah dia ini!), dan akan juga diceritain oleh gacoan kita, Dr. Lilie Suratminto jang soeda bikin bagoes betoel satoe boekoe jang sanget compleet tentang batoe-nisan djaman VOC doeloe, jang aken kitaorang dengerin tjeritera tentang riwajat koeboeran-koeboeran Belanda jang geletakan pasrah di pulau-pulau ini. Pak Lilie aken tjeritaken itoe koeboerannja di siang bolong, dan kitaorang nantinja djoega aken adjak Pak Alwi Shahab jang poela soeda kassie bikin boekoe jang bagoes tentang riwajat Djakarta di masa silam, kamodian aken ditjeritaken perihal tempatnja Kartosuwiryo di-DOR !!! di Pulau Onrust ini, hiiiiy!
Makan Siang Ikan Bakar "Serba Nikmat", favouritenya Bung Hatta (di tahun 1970an), juga nantinya kita sediakan rendang yang maknyuuus! roti buaye, kopi pecah 2 kali (eh, coffee break maksudnye, hehehe)
Minggu, 3 Agustus jam 07.00 - 17.00 Rp.300.000/orang (tiga ratus ribu aja)
kalo pada mau ngedaftar, hub: adep@cbn.net. id
| Start: | Aug 3, '08 06:00a | | End: | Aug 3, '08 5:00p | | Location: | Kepulauan Seribu |
 SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren: PLESIRAN TEMPO DOELOE: HARTA KARUN VOC DI PULAU ONRUST? Mencari sisa harta karun VOC di Kepulauan Seribu, yang ada di Pulau Kapal (Onrust), Pulau Kelor (Kerkhof), Pulau Bidadari (Purmerend), dan Pulau Cipir (Kuiper), sambil kita membedah novel berlatar belakang sejarah, yang itu.. "Rahasia Meede" karya E.S.Ito (dan tentunya diaorang ikutan jadi narasumber nantinya, ayo entar kita tanya-tanyain tentang isi cerita novel sejarah dia ini!), dan akan juga diceritain oleh gacoan kita, Dr. Lilie Suratminto jang soeda bikin bagoes betoel satoe boekoe jang sanget compleet tentang batoe-nisan djaman VOC doeloe, jang aken kitaorang dengerin tjeritera tentang riwajat koeboeran-koeboeran Belanda jang geletakan pasrah di pulau-pulau ini. Pak Lilie aken tjeritaken itoe koeboerannja di siang bolong, dan kitaorang nantinja djoega aken adjak Pak Alwi Shahab jang poela soeda kassie bikin boekoe jang bagoes tentang riwajat Djakarta di masa silam, kamodian aken ditjeritaken perihal tempatnja Kartosuwiryo di-DOR !!! di Pulau Onrust ini, hiiiiy! Makan Siang Ikan Bakar "Serba Nikmat", favouritenya Bung Hatta (di tahun 1970an), juga nantinya kita sediakan rendang yang maknyuuus! roti buaye, kopi pecah 2 kali (eh, coffee break maksudnye, hehehe) Minggu, 3 Agustus jam 07.00 - 17.00 Rp.300.000/orang (tiga ratus ribu aja) kalo pada mau ngedaftar, hub: adep@cbn.net. id
|  | SPOORWEG STATION DI JAKARTA PLESIRAN TEMPO DOELOE BERSAMA SAHABAT MUSEUM
Naik kereta api tut tut tut Siapa hendak turut Ke Bandung Surabaya Bolehlah naik dengan percuma Ayo temanku lekas naik Keretaku tak berhenti lama
Cepat keretaku jalan tut tut tut Banyak penumpang turut Keretaku sudah penat Karena beban terlalu berat Di sinilah ada stasiun Penumpang semua turun
Hari ini tanggal 13 Juli 2008 merupakan perjalanku bersama BATMUS.
Ini susunan acara PTD kali ini keliling dari satu stasiun ke stasiun lainnya 07.30 - 08.00: Kumpul di Stasiun Jakarta Kota 08.00 - 08.30: Cerita tentang Stasiun Beos 08.30 - 09.15: Keliling Stasiun Jakarta Kota 09.15 - 09.30: Siap-siap naek Kereta Api 09.30 - 10.00: Berangkat ke Stasiun Manggarai 10.00 - 10.45: Keliling Balai Yasa Manggarai 10.45 - 11.00: Cerita tentang bus dan PPD 11.00 - 11.15: Siap-siap naik bus PPD 11.15 - 12.00: Berangkat ke Stasiun Tandjok Priok 12.00 - 13.00: Makan Siang dan Istirahat 13.00 - 14.00: Keliling Stasiun Tandjong Priok 14.00 - 14.30: Berangkat ke Stasiun Jakarta Kota 14.30 - 15.00: Tiba di Stasiun Jakarta Kota, Klaar
Untuk mengetahui sejarah perkeretaapian Indonesia atau Kereta Api selama ini angkutan umum yang selalu aku gunakan untuk pulang kampung jakarta – jawa timur. Atau kalau mau ke BOGOR pastinya naik kereta api .. (jaman smp – sma)
Berangkat dari stasiun Lenteng Agung dengan Kereta JABODETABEK sering disebut KRL = Kereta Rel Listrik. KRL ini melewati stasiun Tanjung Barat, Pasar Minggu, Pasar Minggu Baru, Duren Kalibara, Cawang, Tebet, Stasiun_Manggarai Cikini, Gondangdia, Gambir, Juanda, Sawah Besar, Mangga Besar, Jayakarta, Jakarta Kota Stasiun Jakarta Kota di sebut BEOS.
Sesampainya di Jakarta Kota, saya langsung menuju tempat pendaftaran. Seperti diruangan gitu.. tapi setelah di perhatikan ternyata itu dulu sebelum ppemugaran merupakan pintu utama Stasiun ini.
Sambil menunggu peserta yang belum datang.. kita liat pemutaran film dokumenter tentang Beos dan sejarah perkreataapian . Yang menarik dari film ini ternyata jakarta dulu BERSIH TERTIP…(ngak mungkiin ya balik seperti itu lagi…) dan ternyata jaman dulu di jakarta sudah ada TREM. Trem ini yang menjadi tonggak sejarah adanya PPD sekarang. Gitu certanya..
Selanjutnya kita dibagi 4 kelompok dipandu satu orang narasumber yang mengerti tentang Perkeretaapian. Keliliing BEOS dan akhirnya kita naik kereta api ekonomi (bercampur dengan masyarakat umum) menuju Manggarai.. Sesampainya di Stasiun Manggarai kita langsung menyusuri pinggir rel kereta api menuju Balai Yasa ( Bengkel Kereta Api).
Sudah pernah ke Bengkel kereta? Pastinya tidak semua bisa dan punya kesempatan untuk masuk kesini.. (bagi pecinta kereta api pasti sudah).
Langsung masuk untuk mendapatkan penjelasan tentang Sejarah Lokomotif..
Pembaca MPers sekalian.. Pernah dengar LOKOMOTIF BON BON? Ini peninggalan yang sangat berharga buat Bangsa Indonesia.. disebabkan lokomotif listrik pertama, Dengan model lokomotif listrik WERKSPOOR-HEEMAF nomor 201 (ESS 3201) sahabat bonbon Kalau bukan karena teman-teman di IRPS (Indonesian Railway Preservation Society). Yang menyelamatkan dari kehancuran. Kita tadak bisa liat itu lokomotif. Sudah berkarat dan rapuh sekali. Tapi dengan kegigihan dan usaha teman2 di IRPS maka lokomotif itu bisa kita lihat walau sudah tidak bisa di gunakan. Dan rencananya akan di tepatkan disalah satu sudut di dekat Stasiun Jakarta kota sebagai Munument.
Setelah berkeliling di Balai Yasa.. pastinya foto2 tidak tertinggal. Perjalanan dilanjutkan menggunakan PPD menuju Stasiun Tanjung Priok. Di sini dulu stasiun yang sangat megah dan sering di sebut “white house”, Kemegahan masih terasa. Tapi sayang stasiun ini sekarang menjadi tempatnya pemulung dan tuna wisma. Beberapa ruang gelap dan bauuuuuuuuu menyengat sekali… kalau melihat kondisinya cukup membuat hati menangis.. tapi apa daya tangan tak sampai…
“Pemerintah dimana hatimu. Bangunan ini merupakan saksi bisu sejarah Jakarta”
Yang menerik dari ketidak sempurnaan ini adalah atap dari stasiun ini yang berlubang sehingga ada cahaya masuk … ini yang menggelitik Tyo (salah seorang peserta BATMUS) yang merupakan temanya DEEDEE (bukan adeknya Bang Adep lho) namanya kembar..
Deedee diminta untuk mengambil gambar Tyo.. waw hasilnya benar2 yahuuuuut deh… dengan ide itu akhirnya saya, 2 Deedee berpose untuk mendapatkakn gambar yang yahut seperti Tyo bergaya.. Narsisi sih tapi ini narsis yang membuat karya seni itu indah….Thank teman-teman semua...
**Foto menggunakan Camera Canon 400D…(punya Dee2) jadi telat postingannya
Peserta Lain yang ikut PTD yang membut tulisan 1. rizka 2. dezig 3. Irma 1 4. Irma 2 5. Irma3 6. Zenar Sukra 1 7. Ipe2luv 1 8. Ipe2luv 2 |
| Start: | Jul 13, '08 07:30a | | Location: | Stasiun Kota, Stasiun Manggarai, Naik PPD, Stasiun Tanjung Priok |
SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren: PLESIRAN TEMPO DOELOE: SPOORWEGSTATIONS di DJAKARTA Mengenal riwajat Station-station Kereta Api (Spoorwegstation) dan juga akan ceritain kisah kereta api di djeman dahoeloe, bahoewa spoor atawa sepur itoe artinja boekan kereta api! Dengan menaiki kereta api klas economie jang dimoelain dari Stasiun Beos (Djakarta-Kota) , lantas liwatin Djajakarta, Mangga Besar, Sawah Besar, Djuanda (Noordwijk), Gambir, Gondangdia, Tjikini, sampe ke Station Manggarai. Klaar dari sini, lantas landjoetken perdjalanan ke Station Tandjong Priok dengen naikin autobus PPD (hah? PPD?!). yah kerna Bus PPD ada meroepaken kelandjoetan dari peroesahaan trem -dimana doeloe banjak bersliweran di djalanan Djakarta kota kita tertjinta. Sasoedahnja koeliling Station Tandjong Priok nan jadul ini, lalu kitaorang kombali ke Station Beos dengen naek bus PPD tadi. (naik bus PPD yang AC yah, biar kita gak mandi sauna hehehe) Tida loepa oentoek bezoek satoe locomotief listriek jang pernah melajani djaloer Batavia-Buitenzorg (dari tahun 1926 sampe 1976), jang sekarang misih bisa kita liet di Balai Yasa Manggarai dan aken ditjeritaken riwajat ini locomotief djadoel oleh temen-temen dari IRPS (Indonesian Railway Preservation Society) dan tentoe kitaorang aken nonton film tentang kereta api dan trem djeman doeloe tatkala misih malang melintang di djalanan, ...awas ketoebroek! tuuut... tttuuuuttt.. . Minggu, 13 Juli jam 07.30 pagi Rp.100.000/orang (seratus ribu rupiah) hari minggoe tanggal 13 boelan juli tahoen 2008 07.30 – 08.00: Kumpul di Stasiun Jakarta Kota (makan kecil, minum teh/kopi) 08.00 – 08.30: Cerita tentang Stasiun Beos (presentasi, puter film jadul) 08.30 – 09.15: Keliling Stasiun Jakarta Kota 09.15 – 09.30: Siap-siap naek Kereta Api 09.30 – 10.00: Berangkat ke Stasiun Manggarai (naik Kereta Api) 10.00 – 10.45: Keliling Balai Yasa Manggarai 10.45 – 11.00: Cerita tentang bus dan PPD (presentasi, puter film jadul) 11.00 – 11.15: Siap-siap naik bus PPD 11.15 – 12.00: Berangkat ke Stasiun Tandjok Priok (naik Bus PPD, via Tol) 12.00 – 13.00: Makan Siang dan Istirahat 13.00 – 14.00: Keliling Stasiun Tandjong Priok (presentasi, puter film jadul) 14.00 – 14.30: Berangkat ke Stasiun Jakarta Kota (naik Bus PPD, via jalan biasa) 14.30 – 15.00: Tiba di Stasiun Jakarta Kota, Klaar mendaftar boleeeeeh, kagak mendaftar no what what :) kalo pada mau ngedaftar, hub: adep@cbn.net. id yuk mari, mari...
|  | Taman Prasasti, kuburan peninggalan zaman VOC yang sudah berusia 213 tahun, merupakan salah satu taman pemakaman umum atau TPU resmi tertua di dunia. Karena itu, taman tersebut layak disebut sebagai warisan budaya dunia.
”Taman Prasasti, dulu disebut Kerkhof Laan, lebih tua dari pemakaman tertua di Singapura Fort Canning Park (1926), Gore Hill di Sydney (1868), La Chaise Cemetery di Paris (1803). Ia bahkan lebih tua dari Mount Auburn Cemetery di Cambridge, Massachusetts, AS (1831), yang diklaim sebagai TPU modern pertama di dunia sehingga Pemerintah AS menetapkannya sebagai national historic landmark,” papar arsitek lansekap Nirwono Joga dalam acara diskusi ilmiah tentang koleksi nisan Museum Prasasti, Senin (9/6).
Masih menurut Nirwono, kita sebetulnya memiliki peluang untuk menjadikan Taman Pra- sasti sebagai warisan budaya dunia karena Indonesia setiap tahun dapat mengusulkan ke- pada UNESCO 10 warisan budayanya untuk mendapat sebutan resmi sebagai warisan budaya dunia.
”Akan tetapi, sampai kini kita belum mampu menjual Taman Prasasti,” kata Nirwono tentang museum terbuka itu, yang terletak di Jalan Tanah Aabang I, Jakarta Pusat, dekat Kantor Wali Kota Jakarta Pusat.
TPU Kerkhof Laan atau Taman Prasasti, yang sudah ada sejak zaman VOC, ujar Nirwono, patut dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan sebagai aset tujuan wisata kota.
Makna sosio-historis
Ahli sastra dan kebudayaan Belanda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Dr Lilie Suratminto, menyebut koleksi batu nisan Taman Prasasti sebagai file arsip sejarah kolonial Belanda terbesar di Asia.
”Tidak ada tempat lain di seluruh Asia yang punya koleksi prasasti dari zaman kolonial Belanda sebanyak dan selengkap yang ada di sini,” kata Lilie, yang juga menulis buku Makna Sosio-Historis Batu Nisan VOC di Batavia.
Museum Taman Prasasti, menurut Lilie, menyimpan arsip sejarah sosial-budaya yang kaya makna dan merupakan warisan yang yang tak ternilai bagi sejarah bangsa Indonesia, dan karena itu perlu ditata dan dilestarikan untuk diceritakan kepada anak cucu penerus bangsa.
Taman pemakaman Kerkhof Laan dibangun pada tahun 1795, di masa akhir zaman VOC, dengan tujuan mengantisipasi kepadatan penduduk kota Batavia, yang meningkat pesat sejak ia menjadi kota perdagangan internasional.
Pada tahun 1808, Kerkhof Laan menerima banyak batu nisan pindahan dari kuburan yang ada di berbagai tempat lain, seperti Gereja Belanda di Kota (kini Museum Wayang) dan Gereja Sion. Pemindahan itu dilakukan atas perintah Gubernur Jenderal Daendels, yang melarang dilanjutkannya tradisi mengubur jenazah di dalam gereja atau di atas tanah pribadi.
Nirwono menyebutkan, dari 4.600 batu nisan yang pernah ada di Kerkhof Laan, yang tersisa ki- ni berjumlah 1.242 buah. Di antara para tokoh sejarah yang makamnya masih ada di Taman Prasasti termasuk istri Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles, Olivia Mariamne Raffles, yang meninggal dunia pada tahun 1814; Dr HF Roll (1867-1935), penggagas dan pendiri sekolah kedokteran STOVIA; Miss Riboet alias Miss Tjitjih (1900-1965); serta Soe Hok Gie (1942-1969).
Sumber : [KLIK DISINI]
Foto lain dari [1] Laisa : [KLIK DISINI] [2] Laisa : [KLIK DISINI] [3] Beatleberrie s : [KLIK DISINI]
Malem Mingguan di kuburan.. bikin bulu kuduk merinding.. wah sudah ngak ada di kepalaku.. karena lihat pesertanya saja sudah buanyakkkkk kuali.... seperti yang aku certakan di [KLIK DISINI]
|
Ahirnya kesampaian juga bisa ikut BATMUS ...semoga ini pembuka jalan untuk ikut di acara berikutnya....
Sedari kecil aku sudah sering berkunjung ke Museum... walau cuman sama keluarga dan teman dari luar kota..
Dengan adanya komunitas seperti ini jadi lebih mudah untuk mengatur jadwal bersama teman2 jika memang mau kumpul di tanggal berapa? dan tema apa? ...
Kebetulan temanku dari Bandung (Ochie) datang ke jakarta karena liburan. aku bilang kalau aku pingin plesiran hari sabtu ini bersama BATMUS.. ternyata dia bersemangat banget...ok akhirnya aku dafta.. dan dapat No. 53 & 54..
Yang aku tidak menyangka adanya pesan di YM.."mau ikutan plesiran tempo dulu.". Nana teman kuliah (se-angkatan) pingin ikut juga.. wah aku daftarkan ternyata sudah di No. 113.. wih.. cepat kali ...
eh ada lagi pesan dari YM .. kali ini Maya "ada acara apa utk akhir pkan ini?" Aku jawab "Plesiran tempo doeloe, Badmus" , di jawab sama maya "apaan tuh" itu plesiran tempo doeloenya dari Sahabat Museum.. dijawab sama Maya "plesiran asik tuh" akhirnya maya ikut.. walau pertama sempat yang ngak yakin beranikah Maya kekuburan .. serem katanya..
Akhirnya Maya ikut dapat no.141..
Jadilah kita ber - 4 untuk janjian ke PLESIRAN TEMPO DOELOE: Malem Minggoean di Koeboeran Belanda.
Minggu sore .. janjian sama maya dan yossy di McD sarinah untuk selanjutnya berangkat bareng ke Koeboeran Belanda ( Museum Taman Prasasti) dengan Busway kita turun di Halte Monas(Monumen Nasional), persis bgt di depannya Museum Gajah (Museum Nasional), nah dari situ jalan kaki deh lewatin samping museum (samping kanan, nama jalannya= Jl.Museum) luruuus aja sampe ketemu lampu merah belok kanan deh (ini udah di Jl. Abdul Muis), lantas belok kiri di lampu merah, berikutnya, luruuus lagi sampe mentog. Sampai
Sesampainya di sana pendaftaran ulang untuk mengambil Name Tag belum di buka. Nyempatin Foto2 (wehhhhh narsis deh)..
Aduh Nana mana ini... kok belum nongol.. (cemas dia ngak datang). Sambil ngantri ambil Name Tag. ternyara di bagi dua baris 1 -100 dan 101 - 200 . untung ada Vina, jadi name tagnya Nana diambil Vina, sedangkan aku antri bersama Ochie..kemudian kita minum teh hangat..
sambil menunggu acara dimulai kita duduk2 dekat pilar dan ternyata ada kameramen dari Metro TV... hahaha "kita bertiga langsung semangat.. "sorot kita2 ya"... di jawab sama kameramennya "iya abis itu di edit" .. Gubrak weh.. ya sudah aku males di depan kamera.. mendingan jadi kameramen... sambil megang tuh kamera aku bernasis ria.. tapi gagal .... entah kenapa nich HPku jadi ngadat (wihhhhhh dikuburan) aku lupa kalau mau melakukan sesuatu dikuburan harus minta ijin sama penghuninya.. aku baca-bacadeh.. ayat kursi.. Alhamdulilah.. akhirnya bisa seperti on seperti sedia kala...
akhirnya kita duduk di beranda museum sambil mendengarkan acara di buka oleh Bang Adep sang pendiri komunitas ini, mendengarkan Pak lilie bercerita menjelaskan tentang museum prasti.. (seharusnya ada film yang di pertunjukan, karena kesalahan teknis maka film tersebut gagal).
Setelah makan nasi uduk bersama.. akhirnya kita memasuki kawasan pekuburan sambil mendengarkan Pak lilie bercerita...(biasa narsis deh) ... saking gelap .. nisan2 yang di perlihatkan tidak begitu jelas, kapan2 aku mau dateng siang2 (katanya sih dak boleh foto2 pake kamera besar) kalau HP saja boleh.. weh,
Oh iya, ada juga nisannya So Hok Gie, cuman nisannya tidak ada makam.. karena jasatnya dibakar dan abunya di hanyutkan di laut. Banyak juga Nisan2 yang menurutku cukup menarik..dan tokoh2 cukup mempunyai peran penting di jamannya...
sayang pemakaman ini tidak selebar sebenarnaya karena pada Jaman Pak Ali Sadikin sebagian dari tanah pemakaman ini untuk di bangun gedung wali kota dan perkantoran.
Sambil berjalan tidak disangka menemukan seekor rusa penghuni kuburan ini.. wah jinak sekali rusanya.. (narsis deh sama rusa).
Jam sudah menunjuk pukul 21.59 wih malem.. akhirnya selesai juga.. sekian laporan dari PLESIRAN TEMPO DOELOE: Malem Minggoean di Koeboeran Belanda.
sampai jumpa PTD yang akan datang..
| |